Halo selamat malam, kali ini gua bakalan ngebahas
soal film yang cukup mengispirasi sekali bukan cuman untuk gua namun untuk
kitasemua,yuksimak synopsis erita berikut…
Film ini dirilis di Thailand pada tahun 2011. Jujur
awalnya dulu saya mengira bahwa produk ini berasal dari Jepang atau Korea,
ternyata dari negeri pagoda sana! Film ini diawali dengan seorang remaja
laki-laki yang mengajukan pinjaman ke bank! Tentu saja account officer bank
tersebut terheran-heran mau ngapain sih bocah ini? Dan mulailah alur
cerita pun berjalan mundur…
Ittipat, nama remaja tersebut, mendadak menjadi
banyak uang gara-gara menjual senjata di suatu game online. Life was so easy
back then. He earned a lot of money by that and also bought a car! He started
to neglected his school. In a word, he became unruly boy. Tapi masa
kejayaannya ini sirna sudah, account game online tempat dia berdagang
senjata itu ditutup administrator. Dia yang sudah terbiasa menghasilkan uang,
kini mencoba peruntungan menjual dvd bajakan. Namun ternyata dia malah ditipu
tukang dvd bajakan karena dvd yang dijual itu sangat mudah rusak. Ittipat rugi
besar karena telah membeli banyak dvd tersebut dan orangtuanya pun marah besar.
Seolah kemalangan tak berhenti sampai disitu,
Ittipat gagal masuk universitas negeri. Orang tuanya kecewa karena Ittipat
tidak berhasil mengikuti jejak kakak-kakaknya. Mau daftar ke universitas swasta
pun, Ittipat tidak punya uang yang cukup. Ayahnya menawarinya uang untuk masuk
kuliah, namun dia menolak uang tersebut. Ia justru secara diam-diam malah
menggadaikan jimat Buddha milik ayahnya. Geez, this boy really!
Ittipat kuliah dengan setengah hati. Ia sering
bolos namun sempat menitipkan tape recorder kepada temannya. Suatu saat, ia
pergi ke food expo dan menemukan ketertarikan pada mesin penggoreng kacang
otomatis. Ia pun menyewa mesin tersebut dan berniat berjualan kacang! Ittipat
cukup gigih pergi dari satu penjual kacang ke penjual kacang yang lain untuk
mencari resep membuat kacang yang gurih. Akhirnya usaha ini pun membuahkan
hasil. Ittipat dibantu pamannya membuka stand di suatu mall.
Seolah perjalanan yang belum menemukan jalan yang
mulus, begitu pula dengan usaha kacang Ittipat ini. Jualannya tidak laku.
Akhirnya Ittipat menyadari bahwa untuk berjualan, bukan hanya produksi yang
penting, tetapi juga marketing. Ia menyuruh pamannya untuk menggunakan suara
yang lebih keras ketika memasarkan kacang dan menggunakan taktik diskon serta
bonus. Ia pun memindahkan stand nya yang asalnya dari basement ke pintu
masuk mall. Penjualan kacang pun mengalami peningkatan. Namun, kerja kerasnya
ini mengakibatkan dia drop out dari kuliah!
Kendala lain pun bermunculan, salah satunya adalah
dari pengelola mall, mereka komplain atap mall yang kotor gara-gara asap dari
mesin tersebut sehingga ia harus out dari mall itu. Ittipat pun berjanji akan
menyelesaikan permasalahan tersebut. Ittipat berusaha mengecat kembali
atap tersebut sampai malam hari. Ibunya dengan setia menemaninya. Sampai
seorang petugas keamanan menyuruhnya pulang, Ittipat malah menyogoknya agar
memperbolehkannya menyelesaikan pekerjaannya. Namun, tebak apa yang
dilakukannya? Petugas itu menghampiri Ibu Ittipat sembari berkata “Ibu, tolong
ajari anak Ibu tentang makna dari kejujuran” #jleb!
Ittipat marah-marah. Ibunya menyuruhnya ikut mereka
ke luar negeri. tentu saja Ittipat kaget dan menolak. Ia ingin tetap
melanjutkan usahanya di Thailand. Orangtuanya pun akhirnya pergi ke Shanghai
dan menitipkan Ittipat pada pamannya. Usaha Ittipat mengecat atap tersebut
ternyata tidak mengubah niat pengelola mall. Ittipat tetap harus pergi.
Di tengah kerapuhan yang sedang dialaminya itu, ia bertemu dengan mantan
pacarnya. Di dalam mobil mantan pacarnya membawa oleh-oleh dari suatu provinsi,
yaitu rumput laut kering. Ide bisnis baru pun ditemukan!
Ternyata membuat rumput laut goreng tidak semudah
yang dibayangkan. Butuh berkardus-kardus rumput laut yang harus digoreng untuk
menghasilkan hasil seperti yang diharapkan. Belum lagi timbul masalah rumahnya
disita. Ternyata ayah Ittipat terlilit hutang sehingga memaksa mereka harus
pergi ke luar negeri. Ittipat menjadi semakin terbakar semangatnya untuk
memulai usaha ini. Komputer dan barang-barang ia jual untuk memperoleh tambahan
modal. Namun, seolah masalah tak henti menghampirinya, paman yang setia
menemaninya terjatuh di rumah. Pamannya kemudian dirawat di rumah sakit. Dalam
situasi putus asa, Ittipat menggoreng sisa rumput laut yang telah kering
tersiram sinar matahari. Dan, voila! Rumput laut goreng itu tercipta juga!
Namun, keberhasilan ini belum selesai. Rumput laut
goreng ini ternyata mudah basi. Ittipat akhirnya nekat menemui salah satu dekan
di universitas pertanian dan pangan untuk mencari solusinya. Dengan mengobral
kisah perjuangannnya yang menyedihkan, dekan tersebut memberitahukan Ittipat
bahwa solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan mengeluarkan oksigen pada
saat pengemasan. Masalah terselesaikan!
Dengan semangat yang baru, Ittipat membuka kembali
stand di mall. Rumput laut goreng ini memperoleh sambutan yang sangat baik oleh
masyarakat. Ittipat bahkan menulis target penjualan di tangannya. Merasa
memperoleh sebuah harapan baru dalam hidupnya, Ittipat kini memandang masa
depannya dengan optimis. Sampai suatu hari ibu dan ayahnya menelpon dan
menyuruhnya pergi ke Shanghai untuk kuliah disana… Di tengah percakapan telepon
itu, Ittipat memberanikan diri untuk menanyakan berapa jumlah hutang ayahnya.
Ayahnya pun dengan lemah menjawab, “40 juta Baht ~ 12 milyar Rupiah”.
Dunia seakan menjungkirbalikkan dirinya kembali.
Dia dengan gigih mencari cara untuk meningkatkan penjualan. Dia dengarkan
kembali tape-tape recorder yang berisi rekaman kelas marketing ketika dia
kuliah. Di tengah itu, baterai walkman Ittipat habis. Ittipat pergi membeli
baterai dan cemilan ke Seven Eleven. Berjalan keluar dari toko tempat ia
belanja, ia menemukan toko Seven Eleven yang lain. Ia masuk kembali membeli
cemilan sambil mendegarkan rekaman tersebut. Sembari berjalan pulang keluar, Ittipat
kini memahami strategi “Hutan Rimba” yang sedang dibahas di rekaman tersebut.
Strategi dimana dia bisa menggerakan seluruh konsumen dari berbagai daerah
untuk memperoleh produknya. Seven Eleven adalah jawabannya!
Dia menelepon pihak Sevel untuk menanyakan apa saja
persyaratan yang harus dipenuhi untuk memasarkan produk di Sevel. Ittipat pun
membuat janji untuk bertemu dengan bagian pemasaran Sevel. Pertama kali bertemu
dengan Mrs. Pu, Ittipat disangka sebagai asisten pengusaha yang mengajukan usahanya!
Mrs. Pu pun menilai produk rumput laut goreng tersebut belum siap untuk dijual.
Kemasan yang tidak terstandar, terlalu besar, dan terlalu mahal. Kesan pertama
pertemuan dengan Mrs. Pu sangat tidak memuaskan. Namun, Ittipat tidak menyerah,
ia pergi ke tukang design untuk menciptakan kemasan yang baru. Ittipat pun
pergi kembali ke kantor Sevel dengan membawa produknya yang telah diperbaiki.
Sayang sekali, pada saat itu Mrs. Pu justru tidak bisa ditemui. Ittipat yang
sudah menunggu seharian pun akhirnya meninggalkan sampel produknya di lift
kantor. Salah satu pegawai mengambil produk tersebut. Memakannya dan
memberikannya kepada rekan kantor yang lain. Ternyata rasa rumput laut goreng
tersebut enak sekali. Mrs. Pu yang hendak pergi meeting keluar, akhirnya melihat
sebungkus rumput laut goreng itu di lift.
Produk Tae Kae Noi Ittipat pun diterima Sevel!
Woaah, Ittipat diundang ke kantor mereka dan diberitahukan tentang
persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, seperti jumlah minial produk yang
harus disupply dan juga perihal Good Manufacturing Practice (GMP). Jika
persyaratan itu tidak dipenuhi, maka kontrak akan diputus. Inspeksi akan
dilakukan pihak Sevel ke pabrik Ittipat satu bulan kemudian.
Ittipat kini kebingungan bagaimana caranya
memproduksi ribuan bungkus Tae Kae Noi dalam waktu sebulan. Dia tidak punya
pegawai, tidak punya pabrik, dan tidak punya modal! Alur cerita pun kembali ke
masa kini, yaitu ketika Ittipat mengajukan pinjaman ke bank. Pegawai bank yang
sudah antusias mendengarkan cerita Ittipat, begitu terkejut melihat usia Itipat
yang masih 18 tahun. Dia tidak bisa mengajukan pinjaman pada umur segitu!
Karena Ittipat tidak memperoleh pinjaman bank, maka
ia pun nekat menjual mobilnya. Ia merenovasi bangunan milik ayahnya yang sudah
tidak terpakai menjadi pabrik. Pamannya mengingatkan Ittipat bahwa jika kali
ini mereka gagal lagi, maka mereka sudah kehilangan segalanya. Tapi dasar
Ittipat sudah teguh hatinya, ia bersikeras meneruskan usahanya ini.
Tim inspeksi pun datang. Berdasarkan hasil pemeriksaan
mereka, pabrik Ittipat belum sesuai standar GMP. Pamannya mulai ketakutan dan
menyuruh Ittipat untuk menyelipkan ‘uang pelicin’. Ittipat merasa ragu, dan
tidak jadi melakukannya. Dia memilih bertindak jujur, Ittipat kini sudah
berbeda dengan yang dahulu.
Hari berganti dan produksi tetap berlangsung.
Faksimile yang ditunggu-tunggu pun datang. Sialnya, tinta printer Ittipat
habis. Ia membawa kertas itu untuk dibaca dibawah sinar matahari… Jawaban dari
surat itu adalah… pabrik Ittipat lulus standar GMP! yeaaah! Hari pengiriman
produk pun tiba. Ittipat datang kesiangan ke gudang Sevel. Penjaga disana sudah
tidak mengijinkan prosuk Ittipat masuk. Ittipat pun memohon setengah mati
kepada petugas tersebut. Melihat darah yang mengucur dari hidung Ittipat, petugas
itu pun mengizinkannya. Ittipat tidak sadar kalau dia mimisan!
Pengiriman pertama berhasil dilakukan. Ittipat pun
menelpon ayahnya untuk kembali ke Thailand. Setelah dua tahun kontrak dengan
Sevel, Ittipat berhasil melunasi seluruh hutang ayahnya dan tinggal bersama
keluarganya di rumah yang dulu. Pada usia 26 tahun, Ittipat sudah mempunyai
penghasilan 450 milyar rupiah, 2500 karyawan, perkebunan rumput laut di
korsel, dan mengekpor produk Tae Kae Noi ke lebih dari 6000 cabang di 27
negara. Top found a great ball!
Apa yang menjadi pelajaran dari film yang diangkat
dari kisah nyata ini adalah untuk tidak pernah menyerah. Ittipat dihadang
kegagalan demi kegagalan, namun dia tidak pernah kehilangan antusiasme untuk
bangkit dan bangkit lagi. Film ini juga mengajarkan kejujuran dan kemauan untuk
belajar, Ittipat yang dulu nakal, pernah hampir menyogok kepala sekolah dan
petugas mall, belajar dari kesalahannya di masa lalu dan tidak mengulanginya.
Terakhir, film ini juga mengajarkan untuk selalu dekat dengan keluarga. Karena
apapun yang terjadi, keluarga lah yang akan selalu berdiri menjadi pendukung
kita yang paling utama!
Mungkin masih banyak lagi pelajaran yang bisa
diambil dari film ini. Meskipun film ini berdurasi cukup lama dan minim sound
effect, namun makna perjuangan yang dilakukan sang tokoh utama memang luar
biasa. Sangat berbeda dengan film Thailand lain yang biasanya ceritanya ringan
dan berkisah tentang cinta. Saya memberikan film ini 8 dari 10 bintang. It
was totally worthed to watch!
“Jangan patah semangat walau apapun yang terjadi,
jika kita menyerah, maka habislah sudah” -Ittipat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar