Laman

  STUDY EXCURSIE TAMAN SAFARI  PRIGEN JAWA TIMUR Pada Tanggal 5 Juli 2018 mahasiswa  STIMIK/STIE Asia Malang melakuk...

Kamis, 05 April 2018

KISAH INSPIRASI


Halo selamat malam, kali ini gua bakalan ngebahas soal film yang cukup mengispirasi sekali bukan cuman untuk gua namun untuk kitasemua,yuksimak synopsis erita berikut…

Film ini dirilis di Thailand pada tahun 2011. Jujur awalnya dulu saya mengira bahwa produk ini berasal dari Jepang atau Korea, ternyata dari negeri pagoda sana! Film ini diawali dengan seorang remaja laki-laki yang mengajukan pinjaman ke bank! Tentu saja account officer bank tersebut terheran-heran mau ngapain sih bocah ini? Dan mulailah alur cerita pun berjalan mundur…
Ittipat, nama remaja tersebut, mendadak menjadi banyak uang gara-gara menjual senjata di suatu game online. Life was so easy back then. He earned a lot of money by that and also bought a car! He started to neglected his school. In a word, he became unruly boy. Tapi masa kejayaannya ini sirna sudah, account game online tempat dia berdagang senjata itu ditutup administrator. Dia yang sudah terbiasa menghasilkan uang, kini mencoba peruntungan menjual dvd bajakan. Namun ternyata dia malah ditipu tukang dvd bajakan karena dvd yang dijual itu sangat mudah rusak. Ittipat rugi besar karena telah membeli banyak dvd tersebut dan orangtuanya pun marah besar.
Seolah kemalangan tak berhenti sampai disitu, Ittipat gagal masuk universitas negeri. Orang tuanya kecewa karena Ittipat tidak berhasil mengikuti jejak kakak-kakaknya. Mau daftar ke universitas swasta pun, Ittipat tidak punya uang yang cukup. Ayahnya menawarinya uang untuk masuk kuliah, namun dia menolak uang tersebut. Ia justru secara diam-diam malah menggadaikan jimat Buddha milik ayahnya. Geez, this boy really!
Ittipat kuliah dengan setengah hati. Ia sering bolos namun sempat menitipkan tape recorder kepada temannya. Suatu saat, ia pergi ke food expo dan menemukan ketertarikan pada mesin penggoreng kacang otomatis. Ia pun menyewa mesin tersebut dan berniat berjualan kacang! Ittipat cukup gigih pergi dari satu penjual kacang ke penjual kacang yang lain untuk mencari resep membuat kacang yang gurih. Akhirnya usaha ini pun membuahkan hasil. Ittipat dibantu pamannya membuka stand di suatu mall.
Seolah perjalanan yang belum menemukan jalan yang mulus, begitu pula dengan usaha kacang Ittipat ini. Jualannya tidak laku. Akhirnya Ittipat menyadari bahwa untuk berjualan, bukan hanya produksi yang penting, tetapi juga marketing. Ia menyuruh pamannya untuk menggunakan suara yang lebih keras ketika memasarkan kacang dan menggunakan taktik diskon serta bonus. Ia pun memindahkan stand nya yang asalnya dari basement ke pintu masuk mall. Penjualan kacang pun mengalami peningkatan. Namun, kerja kerasnya ini mengakibatkan dia drop out dari kuliah!
Kendala lain pun bermunculan, salah satunya adalah dari pengelola mall, mereka komplain atap mall yang kotor gara-gara asap dari mesin tersebut sehingga ia harus out dari mall itu. Ittipat pun berjanji akan menyelesaikan permasalahan tersebut. Ittipat  berusaha mengecat kembali atap tersebut sampai malam hari. Ibunya dengan setia menemaninya. Sampai seorang petugas keamanan menyuruhnya pulang, Ittipat malah menyogoknya agar memperbolehkannya menyelesaikan pekerjaannya. Namun, tebak apa yang dilakukannya? Petugas itu menghampiri Ibu Ittipat sembari berkata “Ibu, tolong ajari anak Ibu tentang makna dari kejujuran” #jleb!
Ittipat marah-marah. Ibunya menyuruhnya ikut mereka ke luar negeri. tentu saja Ittipat kaget dan menolak. Ia ingin tetap melanjutkan usahanya di Thailand. Orangtuanya pun akhirnya pergi ke Shanghai dan menitipkan Ittipat pada pamannya. Usaha Ittipat mengecat atap tersebut ternyata tidak mengubah niat pengelola mall. Ittipat  tetap harus pergi. Di tengah kerapuhan yang sedang dialaminya itu, ia bertemu dengan mantan pacarnya. Di dalam mobil mantan pacarnya membawa oleh-oleh dari suatu provinsi, yaitu rumput laut kering. Ide bisnis baru pun ditemukan!
Ternyata membuat rumput laut goreng tidak semudah yang dibayangkan. Butuh berkardus-kardus rumput laut yang harus digoreng untuk menghasilkan hasil seperti yang diharapkan. Belum lagi timbul masalah rumahnya disita. Ternyata ayah Ittipat terlilit hutang sehingga memaksa mereka harus pergi ke luar negeri. Ittipat menjadi semakin terbakar semangatnya untuk memulai usaha ini. Komputer dan barang-barang ia jual untuk memperoleh tambahan modal. Namun, seolah masalah tak henti menghampirinya, paman yang setia menemaninya terjatuh di rumah. Pamannya kemudian dirawat di rumah sakit. Dalam situasi putus asa, Ittipat menggoreng sisa rumput laut yang telah kering tersiram sinar matahari. Dan, voila! Rumput laut goreng itu tercipta juga!
Namun, keberhasilan ini belum selesai. Rumput laut goreng ini ternyata mudah basi. Ittipat akhirnya nekat menemui salah satu dekan di universitas pertanian dan pangan untuk mencari solusinya. Dengan mengobral kisah perjuangannnya yang menyedihkan, dekan tersebut memberitahukan Ittipat bahwa solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan mengeluarkan oksigen pada saat pengemasan. Masalah terselesaikan!
Dengan semangat yang baru, Ittipat membuka kembali stand di mall. Rumput laut goreng ini memperoleh sambutan yang sangat baik oleh masyarakat. Ittipat bahkan menulis target penjualan di tangannya. Merasa memperoleh sebuah harapan baru dalam hidupnya, Ittipat kini memandang masa depannya dengan optimis. Sampai suatu hari ibu dan ayahnya menelpon dan menyuruhnya pergi ke Shanghai untuk kuliah disana… Di tengah percakapan telepon itu, Ittipat memberanikan diri untuk menanyakan berapa jumlah hutang ayahnya. Ayahnya pun dengan lemah menjawab, “40 juta Baht ~ 12 milyar Rupiah”.
Dunia seakan menjungkirbalikkan dirinya kembali. Dia dengan gigih mencari cara untuk meningkatkan penjualan. Dia dengarkan kembali tape-tape recorder yang berisi rekaman kelas marketing ketika dia kuliah. Di tengah itu, baterai walkman Ittipat habis. Ittipat pergi membeli baterai dan cemilan ke Seven Eleven. Berjalan keluar dari toko tempat ia belanja, ia menemukan toko Seven Eleven yang lain. Ia masuk kembali membeli cemilan sambil mendegarkan rekaman tersebut. Sembari berjalan pulang keluar, Ittipat kini memahami strategi “Hutan Rimba” yang sedang dibahas di rekaman tersebut. Strategi dimana dia bisa menggerakan seluruh konsumen dari berbagai daerah untuk memperoleh produknya. Seven Eleven adalah jawabannya!
Dia menelepon pihak Sevel untuk menanyakan apa saja persyaratan yang harus dipenuhi untuk memasarkan produk di Sevel. Ittipat pun membuat janji untuk bertemu dengan bagian pemasaran Sevel. Pertama kali bertemu dengan Mrs. Pu, Ittipat disangka sebagai asisten pengusaha yang mengajukan usahanya! Mrs. Pu pun menilai produk rumput laut goreng tersebut belum siap untuk dijual. Kemasan yang tidak terstandar, terlalu besar, dan terlalu mahal. Kesan pertama pertemuan dengan Mrs. Pu sangat tidak memuaskan. Namun, Ittipat tidak menyerah, ia pergi ke tukang design untuk menciptakan kemasan yang baru. Ittipat pun pergi kembali ke kantor Sevel dengan membawa produknya yang telah diperbaiki. Sayang sekali, pada saat itu Mrs. Pu justru tidak bisa ditemui. Ittipat yang sudah menunggu seharian pun akhirnya meninggalkan sampel produknya di lift kantor. Salah satu pegawai mengambil produk tersebut. Memakannya dan memberikannya kepada rekan kantor yang lain. Ternyata rasa rumput laut goreng tersebut enak sekali. Mrs. Pu yang hendak pergi meeting keluar, akhirnya melihat sebungkus rumput laut goreng itu di lift.
Produk Tae Kae Noi Ittipat pun diterima Sevel! Woaah, Ittipat diundang ke kantor mereka dan diberitahukan tentang persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, seperti jumlah minial produk yang harus disupply dan juga perihal Good Manufacturing Practice (GMP). Jika persyaratan itu tidak dipenuhi, maka kontrak akan diputus. Inspeksi akan dilakukan pihak Sevel ke pabrik Ittipat satu bulan kemudian.
Ittipat kini kebingungan bagaimana caranya memproduksi ribuan bungkus Tae Kae Noi dalam waktu sebulan. Dia tidak punya pegawai, tidak punya pabrik, dan tidak punya modal! Alur cerita pun kembali ke masa kini, yaitu ketika Ittipat mengajukan pinjaman ke bank. Pegawai bank yang sudah antusias mendengarkan cerita Ittipat, begitu terkejut melihat usia Itipat yang masih 18 tahun. Dia tidak bisa mengajukan pinjaman pada umur segitu!
Karena Ittipat tidak memperoleh pinjaman bank, maka ia pun nekat menjual mobilnya. Ia merenovasi bangunan milik ayahnya yang sudah tidak terpakai menjadi pabrik. Pamannya mengingatkan Ittipat bahwa jika kali ini mereka gagal lagi, maka mereka sudah kehilangan segalanya. Tapi dasar Ittipat sudah teguh hatinya, ia bersikeras meneruskan usahanya ini.
Tim inspeksi pun datang. Berdasarkan hasil pemeriksaan mereka, pabrik Ittipat belum sesuai standar GMP. Pamannya mulai ketakutan dan menyuruh Ittipat untuk menyelipkan ‘uang pelicin’. Ittipat merasa ragu, dan tidak jadi melakukannya. Dia memilih bertindak jujur, Ittipat kini sudah berbeda dengan yang dahulu.
Hari berganti dan produksi tetap berlangsung. Faksimile yang ditunggu-tunggu pun datang. Sialnya, tinta printer Ittipat habis. Ia membawa kertas itu untuk dibaca dibawah sinar matahari… Jawaban dari surat itu adalah… pabrik Ittipat lulus standar GMP! yeaaah! Hari pengiriman produk pun tiba. Ittipat datang kesiangan ke gudang Sevel. Penjaga disana sudah tidak mengijinkan prosuk Ittipat masuk. Ittipat pun memohon setengah mati kepada petugas tersebut. Melihat darah yang mengucur dari hidung Ittipat, petugas itu pun mengizinkannya. Ittipat tidak sadar kalau dia mimisan!
Pengiriman pertama berhasil dilakukan. Ittipat pun menelpon ayahnya untuk kembali ke Thailand. Setelah dua tahun kontrak dengan Sevel, Ittipat berhasil melunasi seluruh hutang ayahnya dan tinggal bersama keluarganya di rumah yang dulu. Pada usia 26 tahun, Ittipat sudah mempunyai penghasilan 450 milyar  rupiah, 2500 karyawan, perkebunan rumput laut di korsel, dan mengekpor produk Tae Kae Noi ke lebih dari 6000 cabang di 27 negara. Top found a great ball!
Apa yang menjadi pelajaran dari film yang diangkat dari kisah nyata ini adalah untuk tidak pernah menyerah. Ittipat dihadang kegagalan demi kegagalan, namun dia tidak pernah kehilangan antusiasme untuk bangkit dan bangkit lagi. Film ini juga mengajarkan kejujuran dan kemauan untuk belajar, Ittipat yang dulu nakal, pernah hampir menyogok kepala sekolah dan petugas mall, belajar dari kesalahannya di masa lalu dan tidak mengulanginya. Terakhir, film ini juga mengajarkan untuk selalu dekat dengan keluarga. Karena apapun yang terjadi, keluarga lah yang akan selalu berdiri menjadi pendukung kita yang paling utama!
Mungkin masih banyak lagi pelajaran yang bisa diambil dari film ini. Meskipun film ini berdurasi cukup lama dan minim sound effect, namun makna perjuangan yang dilakukan sang tokoh utama memang luar biasa. Sangat berbeda dengan film Thailand lain yang biasanya ceritanya ringan dan berkisah tentang cinta. Saya memberikan film ini 8 dari 10 bintang. It was totally worthed to watch!
“Jangan patah semangat walau apapun yang terjadi, jika kita menyerah, maka habislah sudah” -Ittipat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar